The Girl Who Leapt Through Time: Diterjemahkan jadi gadis yang melewati waktu dengan cara melompat, eeeh?
Posted by : OTAKU
Selasa, 02 April 2013
Errr,
kira-kira akan jadi seperti itulah ekspresi yang akan dialami waktu
nonton film karya sutradara Mamoru Hosoda ini. Film ini bener-bener
bakal bikin ngakak, ngakak banget, melihat tingkah Makoto Konno, gadis
tomboi yang agak-agak bodoh dan ceroboh – walaupun dirinya sendiri nggak
mau mengakuinya. Sampai ia mulai menggunakan kemampuan melompati waktu
yang didapatnya dari sebuah ‘kenari’, well, masih ngakak. Kemudian,
sampai waktu ia mulai bertambah sering ‘melompat’, penonton secara
spontan akan mengamati dengan baik bagian-bagian waktu yang terlibat.
Sampai klimaks, tanpa basa-basi lagi, kalau tidak konsentrasi bakal
kebingungan tak tau arah. Dan endingnya, meskipun memuat ambiguitas yang
cukup membingungkan namun masih diakhiri dengan ending yang melegakan
dan mendewasakan.
“People say that when you have a bad day, nothing will go fine. But that is not for me. Because I'm always having luck.” – Makoto Konno
Best Friends: (from left to right) Chiaki, Makoto, and Kousuke
Meskipun
berupa adaptasi dari novel berjudul sama (Toki o Kakeru Shoujo)
karangan Yasutaka Tsutsui, film ini lebih bisa dibilang sebagai sekuel
dari novelnya. Bercerita tentang Makoto Konno, Chiaki Mamiya, dan
Kousuke Tsuda yang merupakan teman baik dan sering terlihat bermain
bersama-sama. Pulang sekolah bersama, main baseball bersama atau
karaokean bersama. Suatu hari, ketika Makoto sedang mengantar kertas
hasil tes, ia mendengar suara dari ruangan sains. Namun, setelah ia
masuk dan melihat-lihat, ternyata tidak ada siapa-siapa. Tak lama
kemudian Makoto melihat sebuah biji kenari yang tiba-tiba jatuh dari
suatu tempat dan tergeletak di lantai. Ia pun berniat mengambilnya
ketika sesaat ia melihat sesosok bayangan manusia dalam ruangan itu.
Spontan ia terjatuh karena terkejut dan siku kirinya menimpa biji kenari
yang mau dipungutnya. Tiba-tiba Makoto seperti tersedot atau jatuh ke
atas (?) memasuki dimensi lain dimana ia melihat berbagai macam hal aneh
yang pada akhirnya terhenti sejenak melayang di atas padang rumput,
hingga kemudian ia terjatuh, ke bawah, dan kembali ke dunianya.
Pengalaman aneh yang mengarah ke suatu kemampuan khusus?
“If today... If today were a normal day, there wouldn't have been any problems. But... I'd forgotten that today was an extremely unlucky day. It's crazy... but I'm going to die.” – Makoto Konno
Sepulang
sekolah, dengan mengendarai sepedanya seperti biasa, ia mengalami
sedikit kecelakaan, errr, tertabrak kereta api. Makoto mendapati rem
sepedanya tidak berfungsi ketika melewati turunan tajam berujung
persimpangan rel kereta api (beserta kereta apinya yang siap lewat).
Tidak bisa menghentikan sepedanya, Makoto menabrak pembatas dan
terpental tepat di depan lokomotif kereta api yang lewat. Beruntungnya,
alih-alih terpental, kita akan menyebutnya melompat – Makoto melompati
waktu. Sama bingungnya dengan Makoto, paling tidak saat itu, kita
tiba-tiba mendapati Makoto telah melompat mundur beberapa detik waktu
sebelum ia menabrak/ditabrak kereta api. Makoto selamat! Namun tidak
berhenti disitu, sebaliknya, sejak saat pertama ia menyadari
kemampuannya melompati waktu inilah petualangannya dimulai.
![]() |
Makoto terpental dari sepedanya |
Begitu
menyadari kemampuannya untuk melompati waktu, Makoto pun menggunakannya
untuk hal-hal sepele demi memenuhi kesenangannya saja, seperti melompat
ke waktu terdahulu untuk makan pudding jatahnya yang dimakan adiknya
terlebih dulu, mengulangi hari sialnya menjadi hari keberuntungannya
dengan menghindari kecerobohan yang ia lakukan di waktu sebelumnya,
melompati waktu untuk merasakan makan malam kesukaannya di malam
sebelumnya, hingga mengulangi waktu berkali-kali hanya untuk bisa
karaokean bareng Chiaki dan Kousuke berulang-ulang dengan cara mengakali
batas waktu sewanya. Hal tersebut dilakukannya dengan tanpa basa-basi
tanpa menyadari bahwa untuk setiap kesenangan yang dilakukannya ternyata
mengorbankan orang lain untuk menggantikan kesusahannya. Makoto pun
mulai merasakan orang-orang di sekitarnya menderita akibat perubahan di
ruang dan waktu yang ia lakukan. Hal tersebut semakin lama semakin
menjadi, bahkan sampai menyangkut hal hidup-mati teman-temannya. “I’ll
do something!”, ungkap Makoto, berniat untuk melakukan sesuatu.
“This is it. If I had known, I would have gotten up earlier. I wouldn't have slept in. Wouldn't have been late. Done a better job on my tempura. Avoid being knocked over by stupid boys. And today was supposed to be NICE day...” – Makoto Konno
Awal
cerita film ini benar-benar akan membuat kita tertawa lepas ditambah
dengan animasi karakter yang komikal, kemudian kita akan dibingungkan
oleh waktu-waktu yang terlibat yang menuntut otak kita untuk
menyesuaikan, mengadaptasi kondisi sebelum dan setelah perubahan.
Sebenarnya kalau kita berkonsentrasi dan jeli bisa saja mengikutinya
dengan baik. Tapi untuk sebuah film science fiction bertema time travel,
film ini terlalu sedikit dalam memberikan clue-clue atau penjelasan
mengenai perihal lompat-melompat waktu. Seperti tidak menjelaskan
bagaimana cara menentukan waktu tujuan lompatan, apa-apa saja peraturan
yang harus ditaati dalam melompati waktu (berkaitan dengan salah satu
karakter yang ternyata pemilik ‘kenari waktu’), bagaimana cara kerja
kenari waktu, dan apa-apa saja batasan atau kemampuan minimal dan
maksimal yang bisa digunakan dalam melompati waktu. Awalnya aku kira
film ini memang tidak mau ambil pusing dengan hal-hal seperti itu. Aku
pun enjoy saja merasa kalau unsur time travel ini cuma sebatas sarana
yang tidak mempengaruhi inti cerita. Tapi hal tersebut jadi tidak
berlaku lagi setelah banyaknya ambiguitas yang muncul mendekati akhir
film. Tidak seperti kebanyakan film anime, film ini mungkin memberikan
sebuah open ending yang memberikan kebebasan bagi penontonnya
untuk menginterpretasi ending film menurut pribadi penonton
masing-masing. Salah satu interpretasi yang dapat dipikirkan, merupakan
akhir yang ironis dan sangat tidak mengenakkan.
![]() |
Dunia digital? |
Mengingat
film ini sangat komedik pada awalnya, mungkin sebaiknya kita tidak usah
terlalu ambil pusing mengenai endingnya yang ambigu, tidak usah
melompat mundur ke waktu sebelumnya dan menyimpulkan hal yang tidak
menyenangkan, nikmati saja kebahagiaan karakter saat sekarang dan apa
yang telah mendewasakannya, walau mungkin akan jadi sedikit naif.
“Makoto! Time waits for no one...” – Yuri Hayakawa to Makoto Konno
Sejak
awal mindset-ku sudah mengantisipasi kalau time travel merupakan sebuah
hal yang mengerikan. Bayangkan saja, kalau ada time travel, berarti
terdapat banyak dunia di setiap detiknya. Dan ketika kita melompat ke
waktu lain, kita akan melupakan diri kita di waktu yang kita tinggalkan.
Lantas, apa kabar dengan diri kita di waktu sebelumnya itu?
Mengabaikannya pun terdengar kejam. Ada suatu gap yang terbentuk di
dunia waktu lain akibat perubahan yang terjadi kalau seseorang melakukan
perjalanan waktu.
![]() |
Ouch! |
Untungnya
film ini tidak pernah sedikit pun mengarahkan kita ke pemikiran
tersebut, dan sebaliknya, bahkan mengisinya dengan candaan-candaan yang
mengocok perut. Sebagai gantinya, Mamoru Hosoda, mengisi konfliknya
dengan menerapkan prinsip cause-effect. Setiap hal yang diubah Makoto
setelah melompati waktu akan mengakibatkan suatu hal yang di luar dugaan
terjadi, kebanyakan merupakan hal yang tidak diinginkan. Tapi walaupun
bodoh, Makoto merupakan pribadi yang baik dan bertanggung jawab, ia mau
mengorbankan egonya, kesenangannya, juga waktunya demi memperbaiki semua
hal yang telah dikacaukannya. “Time waits for no one”, ungkapan yang
muncul berkali-kali di film ini, setuju sekali! Apa kita pikir waktu
akan menunggu kita untuk bertindak? Apa kita pikir kita bisa mengulangi
dan memperbaiki perbuatan kita yang tidak diinginkan di waktu lampau?
Apakah kita sudah cukup menghargai waktu?
Kalau punya punya kenari waktu, mau dipake buat apa ya? :)
![]() |
Jangan ngarep.. mereka bukannya mau ciuman lho ;) |
Bagian selanjutnya sangat direkomendasikan untuk dibaca setelah menonton filmnya, SPOILER AHEAD.
Interpretasi Ending
Chiaki: I’ll be waiting in the future.
Makoto: I’ll be right there. I’ll run there.
Ungkapan
di atas merupakan 3 kalimat yang menyebabkan ambiguitas terbesar di
film ini. Chiaki ternyata adalah orang yang datang dari masa depan.
Mendekati akhir film, Chiaki sudah harus kembali ke masanya, sedangkan
Makoto sudah tidak bisa melompati waktu lagi. Dengan kondisi seperti itu
berikut sedikit interpretasi yang terpikirkan:
- Not a really long distance?
Masa
depan di mana Chiaki kembali merupakan masa yang tidak begitu jauh,
paling tidak Makoto masih hidup saat itu. Hal tersebut bisa menjelaskan
perkataan Chiaki yang berkata ia akan menunggu di masa depan dan
perkataan Makoto yang bilang ia akan berada di sana. Namun, tidak
menjelaskan perkataan Makoto, “I’ll RUN there”. Run atau berlari ke masa
depan mengingatkan akan hal melompati waktu, namun diketahui Makoto
sudah tidak bisa melompati waktu. Hal lain yang melemahkan kesimpulan
ini adalah pada novel karangan Yasutaka Tsutsui sumber adaptasi film
ini, juga terdapat karakter dari masa depan, di situ diceritakan dia
berasal dari tahun 2660. Hal tersebut memberi kecenderungan Chiaki juga
berasal dari tahun yang sama, tahun yang sangat jauh dari masa Makoto.
- A misunderstanding?
Sederhana
sekali hanya dengan menyimpulkan bahwa Chiaki mengira Makoto masih bisa
melompati waktu. Makoto entah karena suatu alasan tertentu mengatakan
“I’ll run there” mendukung pernyataan Chiaki.
- “I’ll be waiting for you(r restoration of the paintings) in the future”
Mungkin
yang dimaksud Chiaki adalah janji Makoto mengenai lukisan yang dengan
misterius sangat ingin dilihat oleh Chiaki. Makoto mungkin akan menjaga
lukisan tersebut dan akan melakukan sesuatu mengenainya supaya masih
tetap bertahan hingga masa depan di mana Chiaki berada. Jadi, yang
ditunggu Chiaki adalah lukisannya.
![]() |
Mysterious painting |
Kazuko
Yoshiyama (Aunt Witch): “It's a mysterious painting. If you look at it
for a long time, you feel completely at peace. We don't know its artist,
or whether it even has any artistic value. But... we learned one thing
during the restoration. This painting was drawn hundreds years ago in a
time of war and famine.”
Lukisan
tersebut sepertinya memegang peranan yang sangat penting dan bisa jadi
merupakan kunci dari misteri ambiguitas cerita ini. But what?
- No dialogue, should’ve (not really) been better
Rating: 3.5/5
Related Posts :
- Back to Home »
- Anime , Mamoru Hosoda »
- The Girl Who Leapt Through Time: Diterjemahkan jadi gadis yang melewati waktu dengan cara melompat, eeeh?
